Secukupnya
Sudah seminggu perasaan ku membaik sekali, rasanya aku ingin memiliki rasa senang ini selamanya. Tanpa kusadari, aku mulai menaruh harapan kecil pada insan yang ku temui di perjalananku. Lagi-lagi aku lupa untuk membatasi diri akan hal yang bisa membuatku kecewa.
Aku benci perasaan ketika aku tidak bisa mengendalikan rasa senang ku kepada mereka yang kutemui, ketika aku menganggap setiap insan di perjalananku berarti untukku, ketika aku mulai menaruh secercah harapan kepada mereka. Karena aku yakin bahwa manusia lah yang paling tajam untuk menancapkan luka.
Namun, kerap sekali aku enggan untuk membatasi diriku kepada mereka yang ku anggap baik untukku. Meski, seringkali amarahku, bahagiaku serta sedihku bukan bagian penting untuk mereka, karena aku memang insan yang terlupakan.
-Nabastala Teduh
Komentar
Posting Komentar